Saturday, July 08, 2006

[Informasi]: Laris Manis Dengan Label Muslim


Sumber: Properti.net

Label agama kian banyak digunakan dalam bisnis properti. Apa untung ruginya?

What is the name', ujaran William Shakespeare ini rupanya tak begitu laku bagi pengembang perumahan berlabel muslim. Bagi mereka, nama merupakan identitas diri, terlebih bila berhasil mendongkrak angka penjualan. Semakin paten saja nama yang disandang.

Negasi terhadap ujaran sastrawan Inggris yang terkenal dengan Hamlet dan Machbet-nya itu, sedang laku di pasar properti. Apalagi kalau bukan I am Me-nya Rene Descartes. Contohnya, semakin bertebaran saja iklan-iklan yang dengan bangga menyandang label muslim yang memanfaatkan media dalam dan luar ruang.

Ada kavling muslim, rumah muslim idaman, bukit sakinah, mawadah, rahmah, dan lain-lain label yang lekat dengan 80% penduduk Indonesia yang menganut agama samawi ini. Ada yang berlokasi di Tangerang, Bogor, Bekasi, dan lainnya.

Sebetulnya, fenomena penggunaan label muslim untuk properti sudah ada sejak 1995. Ditandai dengan munculnya Griya Islami di Kecamatan Kresek, Balaraja Tangerang, dan Telaga Sakinah (1996) di Bekasi atau Villa Ilhami di Karawaci, Tangerang. Griya Islami, setelah diambilalih PT Ibsul Hold Sdn. Bhd, kini berganti baju dengan nama Griya Citra Permai.

Apa yang menjadi motif para pengembang berani menyandang label muslim untuk bisnis mereka? Ingin memunculkan sentimen keagamaan, tentu saja. Ukhuwah islamiyah, istilahnya. Alasan lain, tentu saja berkait erat dengan estimasi bisnis, yakni common sense "pasar muslim sangat besar dan potensial mendatangkan keuntungan". Betulkah itu? Bukankah justru bisa menimbulkan eksklusivitas?

Komaruddin Hidayat, dalam jurnal Paramadina, mengatakan Islam tidak mengenal eksklusivitas. Karena jika sudah menjadi eksklusif, nilai-nilai keislaman menjadi luntur. "Menjadi inklusif adalah lebih baik. Berbaur dan hidup dengan perbedaan-perbedaan adalah rahmat".
Eksklusivitas ini juga yang ditakutkan Dharmasetiawan Bachir, Wakil Ketua Umum DPP REI bidang Pertanahan, Hukum dan Perijinan. "Label Islam (agama) terlalu mulia untuk dijadikan eksklusif, (nanti) bisa terjadi Mei 1998 jilid II. Apalagi jika agama dimanfaatkan untuk bisnis properti".

Sementara, Ketua Pleno Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Zoemrotin menilai semangat untuk menunjukkan nilai-nilai keislaman patut mendapat tanggapan positif. Akan tetapi, "Maraknya label muslim ini tak lebih sebagai eforia masyarakat yang ditangkap kalangan pebisnis karena common sense tadi," tukasnya.

Kendati demikian, ujaran Rene Descartes terbukti jitu. Menariknya, bukan semata pada larisnya perumahan muslim tersebut, tapi semangat sentimen keagamaan yang muncul pada akhirnya. Seperti menjamurnya bisnis ritel, perkantoran muslim, biro jasa dan lain-lain di area perumahan tersebut.

Tengoklah Telaga Sakinah (TS). Perumahan islami sekitar 4 kilometer dari pintu tol Cibitung Bekasi, ini menunjukkan betapa label muslim memiliki pengaruh luar biasa.

PT Gagas Nusa Prima (GNP) pengembang TS, mengakui berkah tersebut. Marketing Associate Pram Budiharsono mengungkapkan, sejak dibangun 1996, TS yang menjual rumah ready stock, berhasil menjaring sekitar 250 kepala keluarga atau sekitar 300 unit rumah terjual.

"Padahal harga yang ditawarkan lumayan juga, di atas Rp 100 juta. Karena kami membidik keluarga muslim dari lapisan menengah atas," ujar Pram dengan bangga seraya menyebut bahwa ada banyak tokoh muslim terkenal memiliki rumah di TS seperti Antonio Syafii.

Deskripsi lain, di TS ini terdapat biro perjalanan haji Tiga Utama, supermarket Suq, gerai Shafira House, dan masih banyak lagi.

Nah, sampai di sini, korelasi nama dengan kepentingan bisnis, terbukti paralel, bukan? Tapi apa sih sebetulnya yang membedakan perumahan muslim dibanding dengan perumahan umum? Jawabannya, konsep keislaman lengkap dengan pendukung sarana ibadah mahdlah, desain dan anatomi bangunan serta nuansa.

"Perbedaan menonjol yang dimiliki TS dibanding perumahan lain adalah pada letak toilet. Yakni tidak berhadapan dengan kiblat (arah shalat), melainkan menyamping. Setiap kamar dirancang untuk menghadap kiblat, agar konsumen tidak kebingungan," jelas Pram.

Meskipun labelnya muslim, tapi tidak tertutup kemungkinan kalangan non muslim memiliki rumah di TS. "Asalkan mereka mau mentaati peraturan yang kita tetapkan," tegas Pram.

Pun Bukit Sakinah (BS). Siapa yang tak ingin memiliki rumah yang secara epitimologi artinya rumah tangga tenteram dan damai. Motivasi itulah yang menggiring PT Wastudipta Adhi Graha (WAG) untuk mengembangkan perumahan berlabel muslim.

Secara eksplisit Toto Avianto, Direktur Utama WAG mengatakan bahwa motifnya mengembangkan perumahan muslim tak lebih hanya ingin mengumpulkan para muslimin dalam satu wilayah yang terintegrasi.

"Nanti, kalau pembangunan sudah selesai, nuansa islam akan tercipta dengan sendirinya. Karena di sini akan dibangun masjid dan fasilitas rohani yang tidak bersifat fisik semata," urai wong Solo ini kalem.

Label muslim membawa berkah rupanya. Sebab sejak dipasarkan pada September 1999, perumahan seluas 10 hektare ini, sudah laku 277 unit dari rencana pembangunan sekitar 782 unit. Terang saja, berlokasi di ketinggian 435 meter di atas permukaan air laut, beralam hijau produktif, di atas sumber mata air Leuwiliang, dan di kaki gunung Salak, Bogor, siapa yang tak tergiur dengan keelokan alam ini? Belum lagi harga rumah yang ditawarkan, sangat menarik. Untuk tipe Rahmah (21/60) ditawarkan harga Rp 17,3 juta. tipe Barokah (27/66) Rp 23,2 juta, Mawadah (36/78) Rp 30,1 juta dan Sakinah (45/105) Rp 44,88 juta.

Hanya saja, tidak semua perumahan muslim membangun atau menyelenggarakan konsep keislaman secara kaffah. Ada bahkan yang hanya menjual kavling saja tanpa disertai infrastruktur memadai. "Biasanya perumahan seperti itu dikembangkan secara pribadi dan luasnya pun tak lebih dari 10 ha," cermat Dharmasetiawan Bachir, yang kerap dipanggil Iwan ini.

Contohnya pengembang Taman Firdaus (TF), yang hanya menjual kavling mentah di atas tanah seluas 10 hektare.

Perumahan yang berlokasi di Cemplang, sekitar 20 km arah barat Kota Bogor ini, hanya mematok kavling-kavling berdasarkan luasnya saja. Menurut Nani, staf marketing-nya, TF menjual kavling seluas 150 m2 dengan harga Rp 52.000/m2.

Meski hanya kavling mentah dan tak dilengkapi fasilitas, TF cukup menangguk untung dengan label muslimnya. Buktinya, "Tidak hanya di Cemplang, kami mengembangkan area serupa di Ciampea (5 km dari kampus Dramaga IPB), dan banyak yang beli," imbuh Nani.

LSE sendiri adalah pemilik lokasi kawasan perkantoran tersebut, dan ini berarti LSE tidak perlu pindah, namun diindikasikan akan mengosongkan diri pada tahun 2004. "Kami melihat bagaimana cara terbaik memaksimalkan aset kami. Kami adalah organisasi komersial, bukan sebuah perusahaan properti," kata seorang pejabat LSE.

Isu yang beredar sebelumnya, LSE kemungkinan akan memutuskan "hubungan" dengan London yang sudah terjalin selama 200 tahun dan akan pindah ke Canary Wharf di London Timur. (South China Morning Post).

Kondisi serupa juga terjadi di Taman Madani (TM) yang dikembangkan PT Tazkia Bangun Segara. Namun pemiliknya, Yadi Amarhayadi, mengatakan masyarakat tak perlu khawatir membeli TM yang berlokasi di Desa Cigudeg, Bogor. Karena perusahaannya adalah anggota REI. "Jadi konsumen tidak perlu khawatir dengan legalitas dan status kami," ujarnya.

Kondisi inilah yang dikhawatirkan. "Tanggung jawabnya besar sekali," alasan Iwan, yang juga komisaris PT Ibsul, sambil memberi contoh pihaknya tidak lagi memakai Griya Islam untuk Griya Citra Pratama-nya karena tidak ingin memanfaatkan label agama untuk kepentingan bisnis.

Selain itu, lanjut Iwan, seandainya terjadi tindak kriminal, akan sangat berdampak terhadap nama Islam itu sendiri. "Makanya kalau ingin mengembangkan perumahan islami harus benar-benar mentaati prosedur yang ada, jangan merugikan, apalagi menipu konsumen."

Jadi, sah-sah sajalah jika pelaku bisnis memanfaatkan label Islam, asal tindak tanduk bisnisnya betul-betul mencerminkan konsep keislaman.

(Terima Kasih atas Kiriman: Fauzia Dwi Anggraini)

1 comment:

Properti Aku said...

Assalammualaikum..Barangkali Bapak/Ibu mau pengembangan atau penambahan lagi....
Dijual murah tanah cariuk, jonggol seluas 13,5Ha beserta dengan villa seluas 350m2, surat shm dan ajb, harga per meter 75.000 nego, pasaran 100.000an.
www.pasarantanahmurah.blogspot.co.id

Dijual tanah 21 Ha di daerah Setu Bekasi, Pinggir jalan raya alamat dan denah ada di photo (yg di stabilo hijau).
Harga Rp. 500,000,-/permeter nego, 90% surat sudah SERTIPIKAT. Info lengkap ada di:
http://www.tanahdisetubekasi.blogspot.co.id.
Insyaalloh harganya ini murah.